Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

Kids Photography

Memotret anak merupakan salah satu alasan yang paling umum bagi orang untuk membeli kamera. Saya sendiri membeli kamera pertama di hari kelahiran anak pertama. Kehadiran anak, kelucuan mereka, kenakalan, dan berbagai tingkah polah mereka sangat menarik dijadikan point of interest (PoI).

Memotret anak-anak dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan tapi juga kegiatan yang menegangkan terutama bagi si anak itu sendiri. Umumnya orang mengambil gambar dengan meminta anak berpose, menyuruh tersenyunm dan jepret. Tidak jarang pula teknik seperti ini membuat anak takut, lari, atau berpose dengan mimic kaku dan aneh.

Nah, berikut beberapa tips untuk gambar anak yang lebih menarik.

Lakukan senatural mungkin, biarkan mereka dalam kondisi apapun mereka saat difoto. Teknik candid biasanya berhasil dengan baik. Ekspresi dan spontanitas akan terekam secara maksimal.

Jangan meminta mereka melihat kamera atau tersenyum, biasanya perintah meilhat kamera atau tersenyum, membuat anak-anak takut atau terganggu dan malah menghasilkan ekspresi yang aneh.

Mengubah sudut pemotretan, cobalah bergeser ke kanan atau ke kiri, naik atau turun, atau miring ke kanan atau kiri. Perubahan sudut pengambilan gambar juga akan memberi perbedaan yang besar.

Mengubah ketinggian kamera, memotret anak-anak yang paling umum dilakukan sambil berdiri dan berhadap-hadapan. Cobalah men-sejajar-kan tinggi dengan mereka, lalu ambil fotonya. Anda akan melihat hasilnya menjadi sangat berbeda disbanding bila kita foto dengan ketinggian orang dewasa.

Ikutlah dalam suasana mereka, kalau perlu ikut bermain dengan mereka. Dengan demikian Anda tidak akan dianggap orang asing yang mencoba mengganggu kesenangan mereka saat itu. Hasil yang diperoleh pun akan sangat sesuai dengan mood aktivitas yang mereka lakukan.

Hindari blitz, penggunaan blitz yang kuat akan menghasilkan gambar yang datar. Selain itu, blitz akan mengganggu perhatian mereka dan biasanya merusak mood anak-anak.

Tuesday, August 2, 2011

Creative Photography ~ Talk

(Its not about the camera)
(Unleashing your creativity)

(Healthy living via a creative process)
(10 commandments of creativity)

Tomorrow night I will be giving my first talk on creativity. Public speaking on creativity has been a longtime goal of mine and it will be nice to check it off the bucket list. Hopefully if I do my job well it will be the first of many.

This talk has taken on different themes throughout this past year. To give you the short back story of how this “talk” came to be, last year after teaching a photo 101 workshop the conversation veered to my beliefs about the importance of creativity in daily life. This conversation was held after the workshop ended with a small group of people. After the conversation ended I was asked if I could give this same talk next year at the “Health Fair”.

One year later, I will be giving this talk. There will be four running themes: (see above).

Originally the talk was going to be on “faith and creativity”, but at the last minute I was asked to change the title to simply “Creative Photography”. The title change did bother me a little, but truthfully not much. Faith will be a guiding theme blended throughout the talk. And no, it will not be evangelical at all.

Lastly, I will end the talk with a Q&A session. I am guessing I will get a lot of techie questions, that's ok: I will tell you what the best camera to buy. (But you probably won’t like my answer.)

Where: Upper St. Clair Community Building
Free: Open to all
Time: 7pm

Waktu Terbaik untuk Photography

Seringkali kita takjub dengan sebuah foto karena moodnya yang sangat tidak biasa. Foto-foto tersebut umumnya diambil pada waktu-waktu yang khusus. Si photographer biasanya sudah melakukan riset mengenai nuansa dan pola cuaca di suatu lokasi. Kadang-kadang si photographer melakukannya selama 3 hari berturut-turut untuk satu lokasi.

Memang sebuah ongkos yang terbayar dengan layak ketika fotonya membuat kita WOW!!! nah menurut beberpa photographer, waktu-waktu yang terbaik adalah:

jam 5 : Fajar : warna pink, cahaya yang sangat halus dan kabut tipis untuk danau, sungai dan pemandangan.

jam 6 : Sunrise : Cahaya renyah, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap timur.

jam 10 – 14 : Tengah hari : tidak cocok untuk pemandangan dan motret orang, tetapi bagus untuk motret gedung-gedung dan monumen. Warna-warna bangunan dan detailnya terekam sangat baik.

jam 14 – 16 : Sore hari : Langit biru dengan polarizer.

jam 16 – 18 : Senja hari : Cahaya yang hangat, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap barat. Waktu terbaik untuk landscape dan orang, khususnya satu jam sebelum sunset.

jam 18 – 18.30 : Sunset : Langit yang indah, mulai 10 menit sebelum sunset sampai 10 menit sesudahnya.

jam 18.30 – 19.30 : Magrib : Foto malam yang indah, lampu-lampu sudah bernyalaan sedangkan langit masih nampak keunguan.


Cahaya : Pencahayaan yang baik seringkali menjadi kunci foto-foto juara. Penggunaan cahaya siang hari secara efektif dapat juga memperbaiki foto anda. Untuk mencapai foto seindah di “National Geographic”, fotolah ketika cahaya berwarna keemasan – muncul sesudah sunrise dan sebelum sunset, sering disebut “magic hours” di kalangan fotografer. Coba lihat lagi rincian dari waktu-waktu terbaik di atas.

Kedalaman : Sertakan rasa kedalaman pada foto anda. Kedalaman dapat dicapai dengan pengaturan DOF, penempatan elemen-elemen di dalam foto, dan pencahayaan.


Diadopsi dari tulisan Huda M Elmatsani di situs www.fotografer.net

Point of Interest (POI) Dalam Photography

Point of interest sama dengan pokok pikiran dalam suatu tulisan. POI adalah tentang apa yang ingin Anda sampaikan dalam foto tersebut. POI menjadi tema inti foto Anda. Foto yang baik seharusnya hanya ada 1 POI dengan 1 latar belakang dan atau 1 latar depan.

Apa saja yang bisa menjadi POI? Pada dasarnya segala benda, event, ekspresi, garis, bentuk, warna dan lainnya bisa menjadi POI. Berikut beberapa ide untuk dijadikan POI.

Manusia adalah obyek yang tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi. Setiap manusia adalah unik. Perkembangan mereka dari masih dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua sampai meninggal selalu menjadi obyek yang menarik dijadikan point of interest. Ekspresi mereka, aktivitas, budaya, pakai dan aksesoris yang dipakai, sampai dengan bagian-bagian tubuh merupakan POI yang tidak pernah membosankan.

Untuk foto portrait, bagian mata merupakan bagian ygn paling penting. Usahakan fokus yang paling tajam adalah bagian mata.

Hewan dan tumbuhan. Seperti halnya manusia, hewan dan tumbuhan pun merupakan obyek yang sejak dahulu menjadi point of interest yang menarik. Banyak lukisan-lukisan kuno didominasi oleh obyek hewan dan tumbuhan.

Gunung dan Laut. Gunung dan laut merupakan obyek yang menakjubkan. Pengalaman akan ndahnya gunung dan laut dapat ditransformasikan dalam bentuk dokumen 2 dimensi dengan tetap memberi kesan seolah kita berada di sana.

Aktivitas. Aktivitas sekelompok manusia dalam bentuk perayaan, olahraga, perniagaan, pesta budaya, kelahiran, kematian, kematian, perdamaian dan berbagai aktivitas lainnya dapat menjadi PoI yang menarik.

Macro Photography


Macro photography adalah salah satu favorit saya. Foto makro sering kali membuat kita takjub bahwa ternyata ada "dunia lain" selain yang biasa kita lihat. Bentuk-bentuk, warna, aturan social, dan hal lainnya yang sama sekali berbeda dengan yang biasa kita lihat. Ulat yang biasa kita pandang jijik, kadang, membuat kita takjub dengan struktur tubuh dan warnanya. Laba-laba kecil yang biasa kita lihat sepele bisa membuat kita terbelalak dengan kekejamannya ketika mencengkram mangsa. Khusus untuk foto macro saya membuat blog khusus di http://tedysitepu.blogspot.com.

"Macro", begitu teman-teman fotografer menyebutnya, adalah salah satu cabang fotografi yang mengambil obyek dengan jarak dekat kurang dari 1 meter dengan perbesaran minimal 1:1. Artinya 1 cm ukuran obyek tetap menjadi 1 cm direkam dalam sensor atau film. Bahkan ada kamera dan lensa yang mampu memperbesar hingga beberapa kali. Artinya 1 cm obyek bisa menjadi 2 atau 3 cm direkam dalam sensor. Dari sinilah kemudian istilah "macro" digunakan. Berbeda dengan foto umumnya (portrait atau landscape misalnya) setiap foto mengalami pengecilan. TInggi orang 1,5 meter hanya direkam dalam sensor setinggi 1,5cm misalnya. Beberapa kalangan menyebut pula dengan "micro" dengan pengertian obyek yang diambil biasanya benda-benda yang sangat kecil.

Untuk mendalami "macro" sebenarnya susah-susah gampang. Susahnya karena hampir semua proses secara manual. Berbeda dengan tema foto lain yang mudah dilakukan dengan mode otomatis. Susahnya lagi untuk foto macro kita perlu lensa yang khusus, sebagian lensa tersebut cukup mahal. Namun ada juga peralatan yang bisa kita buat sendiri untuk mengganti lensa makro yang mahal itu (pada posting berikutnya saya akan sharing cara membuat lensa makro yang cukup murah).

Mudahnya, macro bisa menjangkau semua jenis obyek yang berada disekitar kita. Lalat, nyamuk, ulat, bunga, daun, cincin atau apa saja yang menurut Anda menarik bisa dijadikan obyek. Berikut contoh-contoh macro yang saya buat.






Berikut 5 tips untuk foto macro:

  1. Atur setting pada mode makro. Biasanya pada kamera ditandai dengan gambar kuncup bunga.
  2. Bila ada setting secara manualnya, set speed tidak kurang dari 1/200, karena ukuran benda kecil dan dilakukan perbesaran maka kita akan melihat gerakan atau goyangan kecil obyek seperti gempa besar dilihat dari balik lensa. Pengalaman
  3. Pastikan setting aperture (diafrahma) pada bukaan yang kecil, paling tidak 8 sampai 16. Ini untuk mengatasi kedalaman focus. Dalam mode macro deep of field sangat tipis. Sehingga bukaan yang besar (2.8 sampai 6) mudah membuat out of focus. Dengan bukaan aperture besar maka membuat bidang focus makin lebar pula.
  4. Hindari blitz, karena akan membuat foto menjadi datar dan tidak menarik. Selain itu, bila obyek adalah serangga kecil akan membuat mereka kabur.
  5. Ambil beberapa shot dengan setting yang berbeda. Seperti disebutkan di atas, sebagian besar macro menggunakan setting manual. Jadi kita perlu mencari setting mana yang menghasilkan foto sesuai keinginan kita.

OK…let's take macro.

Sunday, July 31, 2011

Portrait Photography


A portrait is a painting, photograph, sculpture, or other artistic representation of a person, in which the face and its expression is predominant. The intent is to display the likeness, personality, and even the mood of the person. For this reason, in photography a portrait is generally not a snapshot, but a composed image of a person in a still position. A portrait often shows a person looking directly at the painter or photographer, in order to most successfully engage the subject with the viewer. (www.wikipedia.org)

Sejarah awal photography mungkin didominasi oleh jenis foto portrait. Sering kita melihat foto-foto tua yang menunjukkan profil seseorang tokoh, pejuang, artis, atau bahkan kakek buyut di masa mudanya. Sampai sekarang pun portrait menjadi bentuk foto yang sangat dominan. Seperti disebut wikipedia di atas, ekspresi wajah menjadi sangat dominan.

Penting memperhatikan ekspresi yang natural dari obyek. Umumnya portrait menggambarkan obyek yang melihat langsung pada fotografer. Lagi-lagi mata menjadi komponen paling penting di sini. Usahakan bagian yang paling fokus/tajam adalah mata. Portrait bisa dilakukan untuk seluruh badan, ½ badan, atau hanya 1/3 badan dari pundak hingga kepala. Berikut beberapa tips yang dapat membantu membuat portrait yang bagus.

  1. Fahami obyek anda, identifikasi keistimewaan mereka.
  2. Tutupilah kekurangan/cacat(bila ada) mereka sedemikian rupa.
  3. Atur pose obyek hingga tidak terlihat terlalu gemuk atau terlalu kurus. Biasanya dengan merubas sudut posisi berdiri/duduk.
  4. Fokus pada mata obyek
  5. Dapatkan pose dan ekspresi